Skip navigation

Klik-Disini-untuk-Download-Panduan-Blog-umm

Disamping mengandung hikmah secara moral seperti diuraikan di atas, shalat juga mengandung hikmah secara fisik. Banyak ahli-ahli (sarjana) kedokteran termasyhur membuktikan manfaat shalat terhadap kesehatan. Berikut studi pembuktiannya, dimulai dari bersedekap setelah takbirotul ihrom, meletakkan telapak tangan kanan di atas pergelangan tangan kiri merupakan istirahat yang paling sempurna bagi kedua tangan. Sikap seperti ini memudahkan aliran darah mengalir kembali ke jantung, serta memproduksi getah bening dan air jaringan dari persendian tangan menjadi lebih baik sehingga gerakan di dalam persendian akan menjadi lancar. Hal ini menghindari timbulnya penyakit persendian seperti rheumatik. Sebagai contoh, orang yang mengalami patah tangan, maka lengan penderita tersebut dilipatkan di atas perut dengan mitella yang disangkutkan di leher.

Kedua, ruku’, membungkukkan badan dan meletakkan telapak tangan di atas lutut sehingga punggung sejajar membentuk suatu garis lurus. Sikap yang demikian ini menjaga kesempurnaan posisi dan fungsi tulang belakang sebagai penyangga tubuh dan pusat syaraf. Posisi jantung sejajar dengan otak, maka aliran darah maksimal pada tubuh bagian tengah. Selain itu, rukuk merupakan latihan kemih untuk mencegah gangguan prostat

Ketiga, I’tidal, yaitu bangun dari rukuk, tubuh kembali tegak. Variasi gerakan berdiri, ruku’, berdiri lagi, kemudian sujud merupakan latihan pencernaan yang baik. Organ-organ pencernaan di dalam perut mengalami pemijatan dan pelonggaran secara bergantian. Efeknya, pencernaan menjadi lebih lancar.

Keempat, sujud, Dengan sikap sujud ini maka dinding dari urat-urat nadi yang berada di otak terlatih untuk menerima aliran darah yang lebih banyak dari biasanya, karena otak pada waktu itu terletak di bawah. Latihan semacam ini dapat menghindarkan mati mendadak akibat tekanan darah secara tiba-tiba yang menyebabkan pecahnya urat nadi bagian otak karena emosi yang berlebihan dan sebagainya.

Seorang dokter neurology asal Amerika -yang akhirnya masuk Islam- menemukan, di dalam otak manusia terdapat beberapa syaraf yang tidak dimasuki oleh darah. Padahal setiap inci dari otak memerlukan darah yang cukup untuk berfungsi sempurna. Tetapi ketika seseorang sujud, darah dapat mengalir memasuki urat syaraf tersebut. Urat ini memerlukan darah pada saat-saat tertentu saja. Artinya kebutuhan ini terpenuhi hanya pada waktu shalat.

Posisi sujud juga mengalirkan darah kaya oksigen secara maksimal dari jantung ke otak. Aliran ini berpengaruh pada daya pikir seseorang. Dengan kata lain, sujud yang tuma’ninah dan kontinyu dapat memacu kecerdasan. Karena itu, lakukan sujud dengan tuma’ninah, jangan tergesa gesa agar darah mencukupi kapasitasnya di otak.

Kelima, Duduk Iftirasy (tahiyat awal), posisi duduk seperti ini menyebabkan tumit menekan otot-otot pangkal paha. Pijitan tersebut dapat menghindarkan penyakit saraf pangkal paha (neuralgia) yang menyebabkan tidak dapat berjalan. Disamping itu, tumit menekan aliran kandung kemih, kelenjar kelamin dan saluran vas deferens. Jika dilakukan dengan benar, postur ini bisa mencegah impotensi.

Dan yang terakhir, salam, Memutar kepala ke kanan dan ke kiri secara maksimal. Hal ini sangat berguna untuk relaksasi otot sekitar leher dan kepala, menyempurnakan aliran darah di kepala. Gerakan ini mencegah sakit kepala dan menjaga kekencangan kulit wajah.

Satu lagi penelitian para ahli yang menjawab rahasia di balik anjuran shalat Tahajjud. Cuaca di malam hari yang biasanya dingin dan lembab menyebabkan banyak lemak jenuh melapisi saraf kita hingga menjadi beku. Kalau tidak segera digerakkan, sistem pemanas tubuh tidak aktif, saraf menjadi kaku, bahkan kolesterol dan asam urat merubah menjadi pengapuran. Tidur di kasur yang empuk akan menyebabkan urat syaraf yang mengatur tekanan ke bola mata tidak mendapat tekanan yang cukup untuk memulihkan posisi saraf mata kita. Jadi, dengan shalat malam urat tidur kita lebih terkendali.

Dari sini dapat disimpulkan bahwa shalat disamping merupakan ibadah yang wajib dan istimewa ternyata juga mengandung manfaat yang sangat besar bagi kesehatan, kesejahteraan dan kebahagiaan hidup umat manusia. Shalat adalah anugerah terindah dari Allah bagi hamba beriman.

Sumber : http://kesehatan.kompasiana.com/

Penggunaan sandal jepit sangat membumi bagi masyarakat. Ke mana-mana, mulai pasar tradisional hingga pusat perbelanjaan pun, banyak orang yang mengenakan sandal jepit. Bentuknya yang flat dan ringan membuat orang merasa nyaman memakainya.
Namun, ada beberapa orang yang sebaiknya menghindari pemakaian sandal jepit. “Yakni, orang yang mengalami gangguan ligamen, termasuk otot kaki melemah, dan kaki yang cenderung datar (flat foot),” kata dr Putu Alit Pawana SpKFR.
dikatakan, mengenakan sandal jepit justru membuat kaki mengalami deformitas. Bahkan, ibu jari kaki bisa mengarah ke bagian dalam. “Dalam kondisi begitu, posisi jalan jadi tidak baik atau tidak lurus lagi,” katanya.
Itu disebabkan sandal jepit tidak memberikan proteksi khusus. Terutama, menyokong jari-jari kaki. Sandal jepit juga tidak memberikan kestabilan bagi yang mengenakan. Jika memang sering memakai sandal jepit, disarankan untuk mencari yang memiliki sokongan pada bagian lengkungan telapak kaki. “Apalagi jika yang mengenakan bertubuh gemuk. Maka, tekanan pada jari kaki meningkat. Dampaknya, luas permukaan telapak dan jari kaki makin melebar,” terang spesialis kedokteran fisik rehabilitasi RS Mitra Keluarga Waru itu.
Memang, ada beberapa perkumpulan yang me-warning penggunaan sandal jepit. Salah satunya, Asosiasi Chiropodis dan Podiatrik Inggris. Lembaga tersebut menyarankan, tak berlama-lama mengenakan sandal jepit. Tidak adanya sokongan dan kestabilan pada sandal jepit memunculkan nyeri pada tendon dalam kaki dan tungkai bawah. Bahkan, tulang kering pun mengalami pergeseran.
Putu Alit mengatakan, peringatan tersebut memang diperuntukkan bagi orang Barat yang terbiasa mengenakan sepatu. Mengenakan sepatu membuat jari-jari kaki tetap stabil. “Ketika mereka mengenakan sandal jepit terlalu lama, ukuran kakinya tambah lebar,” tegasnya.
Dia mengatakan, jika memang tak ada gangguan pada kaki, tak masalah mengenakan sandal jepit. Namun, sebaiknya memilih sandal yang memenuhi standar. Antara lain, bagian dalam terdapat inner sole untuk membentuk arch (lengkungan). Adanya inner sole membuat kaki tidak mudah lelah. “Bentuk kaki menjadi lebih baik. Hal ini memengaruhi cara berjalan,” tuturnya.
Dia lebih baik untuk memilih sandal berupa selop. Dengan begitu, jari kaki tidak bergerak bebas dan meniminalkan kaki tambah melebar. “Pilih bahan yang lunak. Sebab, saat berjalan, yang menjadi tumpuan adalah tumit, jari kelima, kemudian ibu jari. Bila posisi sandal benar, kaki tak akan sakit,” terangnya.

Sumber : http://dinotakim.com

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.